Syarif Husni's Greeting


Selasa, 05 April 2011

Sekarat

Tertatih aku menggapaimu
Berlari
Tersandung
Jatuh
Berdarah-darah
Dan sakarat!

Kenapakah hati tak jua menyerah?

Dengan segenap kuat yang ada
Ku kembali berlari
Tersandung
Jatuh
Berdarah-darah
Dan sekarat!

Adakah kau di sana mengerti
Bahwa berdarah-darah aku mempertahankannya!



(Penghujung 2008)

Minggu, 03 April 2011

Sajak Sesal



Haruskah begini?
Tak ada ruang untuk bicara
Tentang rindu yang mati
Diujung keris egoku dan egomu
Tentang mimpi yang pupus
Dibawah pelangi yang tak kunjung hujan

Haruskah kita rubuhkan?
Gubuk mimpi yang hampir sempurna kita bangun
Dengan atap daun rindu dan lantai yang kita sulam dari butir-butir setia
Tidakkah kau ingat betapa kita memisahkan kerikil-kerikil kecil dari pasir komitmen yang kita ciduk di kedalaman sungai hati?
“Ini akan merusak bangunan rumah kita. Ia harus dibuang!” katamu.

Kemudian kita melukis bersama
tentang syurga yang ‘nak kita pinjam dan kita bawa pulang

oh seandainya pagi tidak terlalu dini menyapa
bukankah kita masih bisa melanjutkan mimpi?
Mimpi yang pupus itu
Dibawah pelangi yang tak pernah kunjung hujan


Lombok, 030411 pkl 19.20

Rabu, 16 Maret 2011

Aku, Kau, dan Hujan

Hujan selalu membuatku senang. Seperti sore ini. Karena hanya hujan yang mampu menghadirkanmu di sisiku, Adrian..

Kau akan datang bersama hujan. Menghampiriku yang sedang sendiri di jendela kamarku. Perlahan kau akan meraih tanganku dan mengecup pelan keningku. Mengusir semua luka dan perihku.

Namun sore ini kau belum jua datang. Padahal aku telah menunggumu lama, bersama pelangi. Kenapakah? Tidak sayang-kah kau padaku?.

“Kita tidak bisa bersama Laura. Dimensi kita beda” bisikmu di hujan kemarin dan hujan kemarin-kemarinnya lagi. Selalu sama.

“Tetapi aku dapat menyentuhmu. Merasakanmu..”. Dan sejak hujan itu kau menghilang tanpa jejak.


Aku masih di sini, Adrian, menanti bersama hujan!.


Lombok, 120311

100 kata pas, tidak termasuk judul.
(Kisah ini diikutkan pada lomba FF 100 kata Long Distance Love (LDL) Mayasmara)