Syarif Husni's Greeting
Selasa, 05 April 2011
Mom
When I was a child, I cried a lot
Coz I knew I was nothing
But slowly I felt
I was everything for you
In your breathe
In your heart
Sekarat
Tertatih aku menggapaimu
Berlari
Tersandung
Jatuh
Berdarah-darah
Dan sakarat!
Kenapakah hati tak jua menyerah?
Dengan segenap kuat yang ada
Ku kembali berlari
Tersandung
Jatuh
Berdarah-darah
Dan sekarat!
Adakah kau di sana mengerti
Bahwa berdarah-darah aku mempertahankannya!
(Penghujung 2008)
Berlari
Tersandung
Jatuh
Berdarah-darah
Dan sakarat!
Kenapakah hati tak jua menyerah?
Dengan segenap kuat yang ada
Ku kembali berlari
Tersandung
Jatuh
Berdarah-darah
Dan sekarat!
Adakah kau di sana mengerti
Bahwa berdarah-darah aku mempertahankannya!
(Penghujung 2008)
Minggu, 03 April 2011
Sajak Sesal
Haruskah begini?
Tak ada ruang untuk bicara
Tentang rindu yang mati
Diujung keris egoku dan egomu
Tentang mimpi yang pupus
Dibawah pelangi yang tak kunjung hujan
Haruskah kita rubuhkan?
Gubuk mimpi yang hampir sempurna kita bangun
Dengan atap daun rindu dan lantai yang kita sulam dari butir-butir setia
Tidakkah kau ingat betapa kita memisahkan kerikil-kerikil kecil dari pasir komitmen yang kita ciduk di kedalaman sungai hati?
“Ini akan merusak bangunan rumah kita. Ia harus dibuang!” katamu.
Kemudian kita melukis bersama
tentang syurga yang ‘nak kita pinjam dan kita bawa pulang
oh seandainya pagi tidak terlalu dini menyapa
bukankah kita masih bisa melanjutkan mimpi?
Mimpi yang pupus itu
Dibawah pelangi yang tak pernah kunjung hujan
Lombok, 030411 pkl 19.20
Langganan:
Postingan (Atom)


