Syarif Husni's Greeting


Jumat, 17 Februari 2012

My second book : Gado-Gado Poligami



Poligami; kata yang begitu kontroversial, walau Islam telah mengaturnya secara jelas. Praktek yang menyimpang dari petunjuk agama telah menciptakan image poligami sebagai “momok” yang menyeramkan bagi sebagian besar kaum hawa. Bahkan ada yang lebih memilih menenggak racun serangga daripada harus berdamai dengan kata delapan huruf tersebut.

Lalu, se-ngeri apa sih poligami itu???

Benarkan poligami mampu menghadirkan kebahagiaan???

Pengen tahu kisahnya??

Simak dalam buku kedua saya "Gado-Gado Poligami : Antara Fiksi dan Realitas". Penulis : Leyla Hana, Linda Nurhayati, Rijal El Qalam (Syarif Husni), dkk. Segera dapatkan di toko buku terdekat. Penerbit Elex Media Komputindo (Gramedia Group). Hanya dengan Rp 44.800,-

Minggu, 02 Oktober 2011

Dawai Rindu untuk Abang


LANGIT MALAM diatas atap sebuah bangunan rumah sederhana disebuah desa kecil di pelosok Lombok kembali mendung. Entah untuk kesekian kalinya langit selalu mendung. Di sana, di langit itu tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Tidak ada cahaya. Gelap. Hambar. Kosong. Senada dengan hatiku saat ini.
 
Kupandangi seisi rumah sederhana itu. Dua buah kertas buffalo warna pink dan putih, dengan coretan boardmarker hitam, serta lakban hitam pada empat sudutnya menempel di dinding bangunan itu.  Sebuah gelas kaca kecil dibiarkan tergeletak begitu saja di atas kusen jendela dapur yang tersambung langsung dengan ruang tamu rumah sederhana itu. Didapur nampak beberapa piring tersusun menumpuk serta sebuah lampu minyak berdiri di pojok. Rumah ini sudah lama tidak berpenghuni, sejak beberapa bulan yang lalu. Tetapi buatku, mengunjungi rumah ini adalah rutinitas yang selalu ingin kuulangi; dari jam ke jam, hari ke hari. Dan kali ini aku datang lagi untuk menemuimu. Adakah kau tahu itu?.
***

Minggu, 26 Juni 2011

Para Pewaris Penyakit Andrea part 1 : "Cinta adalah tumpukan pasir campur kerikil rasa kolam renang biru".


Tak kusangka, bercengkerama dengan Padang Bulan-nya Andrea Hirata telah menyadarkan aku akan satu hal. Bahwa cinta beda tipis dengan kegilaan!.

Andrea bercerita bagaimana dia tergila-gila pada sosok gadis Tionghoa anak pedagang Kelontong disudut pasar di Belitong sana. Cinta yang membuat Andrea melakukan hal-hal gila yang tak pernah mampir dibenaknya sebelum itu. Cinta yang menyeruak tiba-tiba ketika dia di minta untuk membeli kapur tulis di toko kelontong tua itu. Dan tanpa diduga-duga, laksana dipanah berkali-kali oleh cupid, Andrea dihantam oleh perasaan yang aneh ketika melihat tangan yang menyodorkan kotak kapur tulis dibalik loker toko kelontong itu. Tangan itu bukanlah tangan kekar dan keriput seperti biasanya. Tangan itu adalah tangan yang putih mulus dengan kuku-kuku yang bersih dan wangi. Seketika dada Andrea kecil dipenuhi bunga-bunga yang entah datangnya dari mana. Belakangan ia mengerti bahwa itulah cinta. Bahkan cinta pada bentuknya yang paling klasik : cinta pada pandangan pertama. Sejatinya, pada pandangan tangan pertama!.