Syarif Husni's Greeting


Sabtu, 06 Juli 2013

Tentang Kutu-Kutu

Pagiku terngiang percakapan semalam
Tentang kutu-kutu

Ah! Geli aku membayangkannya
Makhluk kecil itu merayap disela untai rambut indahmu
Kau, gadis polosku, begitu rapi menyembunyikannya
Diam-diam menggaruknya pada jeda tatapan mataku

Entah, aku begitu suka membayangkannya
Bermain dengan imajiku tentangmu, dan kutu-kutu

Hahaha, aku ingin tertawa saja
Memerah mukamu sebab candaku

Kau, gadis polosku
Labuhan segala birama jiwa
Haluan semesta cinta

Aku mencintaimu
Hatta sekujur rambut indahmu penuh kutu-kutu!


#pagi yg menggelitik, BSA, 060713.

Senin, 27 Mei 2013

Kala Rindu Berbunga


Kepadamu pemilik bunga-bunga rindu : 
Kita tak kan pernah tahu apa yang mereka mau.  Kita hanya tahu apa yang kita mau, sembari menghiba yang DIA mau. Terkadang, ada banyak hal yang tak bisa dimengerti dan dipahami. Tak perlu bertanya tentang keanehan, karena ia hanya persepsi. Dan persepsi tidak perlu dihayati lebih dalam, karena sejatinya ia lahir dari pemaknaan semu nan dangkal. Didepan sana, ada mimpi-mimpi, yang saban hari mampir dalam lelap kita. Dan tahukah kau, mimpi itu saat ini memanggilmu kembali?!

Selasa, 01 Mei 2012

IKHWAH ADALAH ..


Ikhwah adalah orang yang melukis sebuah lingkaran untukmu, dan berkata :
“saudaraku, kutitip lingkaran ini padamu. Lingkaran ini tidak akan pernah putus oleh waktu, ruang dan juga jarak. Bilakah suatu hari nanti engkau memutuskan lingkaran ini, maka sisi-sisinya akan menarik sisi lainnya untuk kembali menyatu dan menjadi lebih kuat lagi!. Tolong jaga lingkaran ini dan jangan pernah engkau khianati”.


Hingga suatu hari engkau putuskan dan sobek-sobek lingkaran itu penuh amarah. Katamu lingkaran itu telah mengikatmu terlalu kuat sehingga nafasmu tersesak, dan hampir membunuhmu. Katamu lingkaran itu telah menyita sekian banyak waktumu. Katamu lingkaran itu telah menghabiskan lebih dari separuh pikiran dan keringatmu. Katamu lingkaran itu begini. Katamu lingkaran itu begitu. Engkau marah. Engkau muak. Dan engkau sobek-sobek lingkaran itu. Kau lemparkan ia ke tanah dan engkau caci dan injak-injak.

Hingga tiba waktunya engkau tersadar bahwa sesungguhnya engkaulah yang khilaf. Dan engkau datang kepadanya, dengan segunung penyesalan. Maka akan kau dapati sebuah senyum indah menyambut galau penyesalanmu. Sebuah senyum, kawan!. Bukan amarah, apalagi aura dendam.  Dan dia akan berkata :

“Tidak apa akhi. Bukankah sekarang kita sedang menyambung lagi lingkaran yang engkau putuskan itu. Mari mendekat saudaraku. Mari peluk aku. Karena lingkaran itu telah kita satukan kembali...”.
Dan engkaupun menangis dalam pelukannya..