Syarif Husni's Greeting


Minggu, 07 Juli 2013

Bertanyaku Tentang Rindu


Bertanyaku pada nurani
Tentang sebuah definisi rindu
Menyibak sisi dan perkamennya
Mengurai sudut terbeningnya..

Akan tetapi, tak pernah ku temu jawabnya
Hanya rasa, hanya getar..
Temaniku di denting waktu yang terus berlari

Tuhan, beri aku jawabnya
Lewat mentari pagi-Mu
Karena aku enggan menunggu sore
Yang slalu bisu dibalik indah lembayungnya..

(Jumat pagi, Mataram 1 Juli 2010. Ada yang jatuh ke Sungai ketika aku menulis note ini..)

Aku Merpati dan Sayap Gibran

Aku merpati, bebas kepakkan sayapku
Terbang jauh, singgahi lembah-lembah, sapa deru desau angin
Aku merpati, rengkuhi nikmat semesta
Berkawan awan, syukur akan sayap nan kokoh

Biarkan!
Biarkan Gibran mematahkan sayapku
Atau pemburu jahannam mengintai dengan senandung luka-luka
Aku tak peduli!
Sebab Gibran takpernah tahu kokoh sayapku
Sebab pemburu lupa bahwa aku telah lama berkawan amis luka

Aku merpati
Sebab itu aku bebas lepas
Hingga kelak sebatang dahan nan rindang memberi ruang berteduh bagi ragaku nan lelah!

#Dan kau takpernah bosan menjadi dahan, sejak tujuh purnama yang telah lalu!

BSA, 170613 bakda Isya.

Sempurna Sudah Sepimu, Sobat!


Pagi tadi, Kota Surabaya menjadi saksi kisahmu
Petak kamar Rumah Sakit itu menyempurnakan takdirmu
Tentang sepi yang kini memelukmu hingga sesak
Belum genap dua tahun, dua malaikatmu pergi
Tinggallah kau menatap keranjang-keranjang kenangan.

Sobat, aku tahu betapa sesaknya kehilangan
Sesaknya melebihi ribuan gumpalan polusi menyerbu paru-parumu dan membakarnya hangus
Sesak yang paling sesak
Aku juga paham betapa sepinya ditinggalkan
Sepinya melebihi hening rimba digulita malam tanpa cericit burung atau desau angin
Sepi yang paling sepi.

Dan pagi ini, kubuka keranjang-keranjang kenangan itu
Tentang dua malaikatmu.

Ah, kau beruntung memiliki mereka
Menjagamu sepenuh-penuh kasih
Melindungimu segagah-gagah perlindungan
Menjadi tempatmu bermanja merebahkan diri
Sesekali menjadi tempatmu tumpahkan keluh kesah.

Sobat,
Pagi ini izinkan aku memberitahumu sesuatu
Bahwa sayangnya DIA melebihi segala
Pun cintamu pada mereka bukan apa-apa
Sebab itulah, mereka menjahit spasi antara dirinya dan dirimu.

Mereka tak pergi, percayalah.
Dua malaikatmu masih ada, bahkan lebih dekat padamu
Pada getar hatimu ketika nama mereka disebut
Pada khusuk sujudmu didepan pintu Sang Pemilik Jiwa.

Sobat, seandainya kau ridhoi
Ingin aku peluk ragamu,
Agar tak sendiri kau berduka
Lalu berdua kita senandungkan doa-doa
Untuk mereka, dua malaikatmu..

“Innalillahi wa inna ilaihirrooji’unn. Allahummagfirlahu, warhamhu, wa’afihii wa’fuanhu. Allummagfirlana dzunuubanaa waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaanisshogiiraa..”

Sempurna sudah sepimu kini..

*Pagi dlm duka, BSA, 07/07/2013.
**untuk Rahmat Adi Putra : mengenang dua malaikatmu, Ummi-Papa.